Yes, I laugh a lot, cried a lot, love a lot, hate a lot, bitch a lot, complained a lot, joke a lot, yet only write a small portion of it. Oh well.

Friday, April 30, 2010

Tentang menjadi manusia yang beragama

Wah hari ini hari terakhir di bulan April dan sejak liburan lalu berarti saya belum nge-posting satu tulisann pun di blog ini. Wew, maafkan saya *nunduk-nunduk ala Takeshi Castle*

Banyak sih yang terjadi dalam satu bulan ini, bagi The Nugroho's, bulan ini kami berhasil akad kredit dengan sebuah bank dan resmi menyicil untuk rumah idaman kami di Depok. Cerita lengkapnya sih pengennya nanti kalo udah pindahan rumah *tsk, bilang aja males lo ni heheh*

Tapi alasan utama untuk kembali corat-coret di blog ini karena saya tergelitik untuk menulis sebuah topik yang menurut banyak orang adalah topik yang sensitif, yaitu soal fanatisme beragama.

Kemarin ada berita sekelompok massa membakar sebuah bangunan asrama di daerah Puncak dan hari ini sekumpulan massa FPI kabarnya membubarkan paksa sebuah acara kontes waria di Depok. Miris sekali aksi-aksi brutal seperti ini masih terjadi di Indonesia, apalagi di Ibukota Jakarta. Oyah, beberapa minggu lalu pun ada kerusuhan berdarah terjadi Koja karena masalah makam seorang tokoh agama. Wih ngeri banget!

Saya bukan orang yang religius.
Tapi saya mengerti bahwa agama apa pun tidak akan mentolerir aksi kekerasan, atas nama atau alasan apa pun.

Bukankah A-gama itu artinya tidak-kacau? Mengapa justru banyak kericuhan atas nama Agama? Mengapa perbedaan jadi alasan untuk bertikai?

Bukankah di mata Tuhan, darah kita sama merah dan dosa kita pun sama hitam?
Mengapa jari kita saling menuding dan tangan kita saling mengepal?
Setahu aku, kepalan tangan kita akan lebih berharga di mata Tuhan, jika kita menggunakannya untuk berdoa, bukan memukul.

Saya kurang suka dengan gaya hidup waria, tapi waria juga punya hak di negara ini untuk berkumpul dan berorganisasi. Masalah waria itu berdosa atau tidak, biarlah Tuhan yang menghakiminya, bukan kita. Situ pikir situ lebih suci dari Tuhan?

Saya juga kurang setuju kalau ada organisasi yang mengiming2 untuk pindah ke keyakinan mereka dengan imbalan uang. Tapi kalau memukul rata semua penganut agama yang sama dengan organisasi itu semua melakukan hal itu, lalu merusak rumah ibadah mereka, ya itu tolol namanya.

Kalau takut sama Anu-isasi dari agama tertentu, ya pertebal keimanan diri sendiri, bentengi diri sendiri dengan pemahaman agama yang kokoh, biar tidak gampang goyah oleh ajaran agama lain. Bukan rumah ibadahnya yang dibakar. Itu tindakan yang luar biasa brainless and not to mention melanggar UUD 45 pasal 29.

Keluarga saya adalah keluarga yang sangat Bhineka Tunggal Ika, begitu pula dengan keluarga Acum. Ada yang Kristen ada yang Islam, ada yang Mualaf, ada pula yang pindah agama dari Islam ke Kristen. All is well, karena keyakinan adalah hak pribadi.

Di ruma Acum, setiap Natala, Pakde2 dan Bude2 yang muslim tak pernah absen untuk datang ke rumah. Mengucapkan selamat Natal dan sekedar bercengkerama melepas rindu. Btw, pakde dan bude kami itu rata-rata Haji dan Hajjah loh.
Indah sekali.


Semua huru-hara soal kekerasan atas nama agama ini membuat saya bertanya2.
Apakah kita mementingkan Agama daripada Tuhan?

Pertanyaannya kira-kira begini,
Jika suatu saat kita sedang ada terombang-ambing di dalam perahu di tengah lautan. Untuk mencapai daratan terdekat, perahu itu hanya sanggup menahan beban 150 kg.
Di dalam perahu itu isinya:
- A yang beragama X, beratnya 60 kg
- si B yang beragama Y (agama X dan agama Y seringkali bertikai dan salah paham), beratnya 60 kg
dan 1 peti berisi Kitab Suci dari agama A, beratnya juga 60 kg.

Jika mereka terus kekeuh melanjutkan perjalanan, berat 180 kg itu pasti akan membuat mereka tenggelam. Satu-satunya jalan adalah membuat kelebihan muatan.

Mana jalan yang akan dipilih?
Melemparkan salah satu manusia demi menyelamatkan sepeti kitab suci
atau melemparkan kitab suci, demi menyelamatkan manusia?

Kalau saya, lebih baik saya mengorbankan sepeti buku-buku Injil dan membuangnya ke tengah laut, daripada saya harus "membunuh" sesama manusia walau ia berbeda Agama. Buku Injil hanyalah kertas, yang terpenting adalah apakah kita mampu menjalani firman yang ada di dalamnya. Firman itu yang akan terus hidup dalam diri kita.

Karena bagi Tuhan, nyawa manusia lebih berharga dibanding setumpuk kertas walau berisi ayat-ayat suci, atau makam orang paling suci sekalipun.

Jika Tuhan berkehendak untuk benda-benda tadi terpelihara, yakinlah bahwa Tuhan itu Maha Memelihara. Tuhan itu Maha Kuasa, jadi tak usah lah memukul orang lain demi membela Dia


Itu aja sih uneg-uneg yang mau saya sampaikan
Punya pendapat lain? Feel free to say it

Labels:

2 Comments:

Blogger Wahyu Yulianto, said...

Setuju banget Nia,
salam kenal dari saya yang kebetulan juga anti kekerasan.
Kalau saja negara benar-benar mau menegakkan aturan ga sampai kejadian bigini terus berulang-ulang.
tapi kapan ya?

8:59 AM

 
Blogger the_curly_caterpillar said...

yups. terkadang juga bertanya-tanya pada diri sendiri.mengapa orang yang mengaku beragama, alim-ulama / ustad malah melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama itu sendiri seperti memperkosa dll tapi tidak malu dengan atribut keagamaan yang mereka pakai? apa sedangkal itu pemahaman mereka tentang agama. 1 yang pasti aku percaya bagwa agama apapun juga itu mengajarkan kasih.menyuruh kita untuk menyebarkan kasih pada sesama.

6:56 PM

 

Post a Comment

<< Home