Yes, I laugh a lot, cried a lot, love a lot, hate a lot, bitch a lot, complained a lot, joke a lot, yet only write a small portion of it. Oh well.

Friday, April 30, 2010

Tentang menjadi manusia yang beragama

Wah hari ini hari terakhir di bulan April dan sejak liburan lalu berarti saya belum nge-posting satu tulisann pun di blog ini. Wew, maafkan saya *nunduk-nunduk ala Takeshi Castle*

Banyak sih yang terjadi dalam satu bulan ini, bagi The Nugroho's, bulan ini kami berhasil akad kredit dengan sebuah bank dan resmi menyicil untuk rumah idaman kami di Depok. Cerita lengkapnya sih pengennya nanti kalo udah pindahan rumah *tsk, bilang aja males lo ni heheh*

Tapi alasan utama untuk kembali corat-coret di blog ini karena saya tergelitik untuk menulis sebuah topik yang menurut banyak orang adalah topik yang sensitif, yaitu soal fanatisme beragama.

Kemarin ada berita sekelompok massa membakar sebuah bangunan asrama di daerah Puncak dan hari ini sekumpulan massa FPI kabarnya membubarkan paksa sebuah acara kontes waria di Depok. Miris sekali aksi-aksi brutal seperti ini masih terjadi di Indonesia, apalagi di Ibukota Jakarta. Oyah, beberapa minggu lalu pun ada kerusuhan berdarah terjadi Koja karena masalah makam seorang tokoh agama. Wih ngeri banget!

Saya bukan orang yang religius.
Tapi saya mengerti bahwa agama apa pun tidak akan mentolerir aksi kekerasan, atas nama atau alasan apa pun.

Bukankah A-gama itu artinya tidak-kacau? Mengapa justru banyak kericuhan atas nama Agama? Mengapa perbedaan jadi alasan untuk bertikai?

Bukankah di mata Tuhan, darah kita sama merah dan dosa kita pun sama hitam?
Mengapa jari kita saling menuding dan tangan kita saling mengepal?
Setahu aku, kepalan tangan kita akan lebih berharga di mata Tuhan, jika kita menggunakannya untuk berdoa, bukan memukul.

Saya kurang suka dengan gaya hidup waria, tapi waria juga punya hak di negara ini untuk berkumpul dan berorganisasi. Masalah waria itu berdosa atau tidak, biarlah Tuhan yang menghakiminya, bukan kita. Situ pikir situ lebih suci dari Tuhan?

Saya juga kurang setuju kalau ada organisasi yang mengiming2 untuk pindah ke keyakinan mereka dengan imbalan uang. Tapi kalau memukul rata semua penganut agama yang sama dengan organisasi itu semua melakukan hal itu, lalu merusak rumah ibadah mereka, ya itu tolol namanya.

Kalau takut sama Anu-isasi dari agama tertentu, ya pertebal keimanan diri sendiri, bentengi diri sendiri dengan pemahaman agama yang kokoh, biar tidak gampang goyah oleh ajaran agama lain. Bukan rumah ibadahnya yang dibakar. Itu tindakan yang luar biasa brainless and not to mention melanggar UUD 45 pasal 29.

Keluarga saya adalah keluarga yang sangat Bhineka Tunggal Ika, begitu pula dengan keluarga Acum. Ada yang Kristen ada yang Islam, ada yang Mualaf, ada pula yang pindah agama dari Islam ke Kristen. All is well, karena keyakinan adalah hak pribadi.

Di ruma Acum, setiap Natala, Pakde2 dan Bude2 yang muslim tak pernah absen untuk datang ke rumah. Mengucapkan selamat Natal dan sekedar bercengkerama melepas rindu. Btw, pakde dan bude kami itu rata-rata Haji dan Hajjah loh.
Indah sekali.


Semua huru-hara soal kekerasan atas nama agama ini membuat saya bertanya2.
Apakah kita mementingkan Agama daripada Tuhan?

Pertanyaannya kira-kira begini,
Jika suatu saat kita sedang ada terombang-ambing di dalam perahu di tengah lautan. Untuk mencapai daratan terdekat, perahu itu hanya sanggup menahan beban 150 kg.
Di dalam perahu itu isinya:
- A yang beragama X, beratnya 60 kg
- si B yang beragama Y (agama X dan agama Y seringkali bertikai dan salah paham), beratnya 60 kg
dan 1 peti berisi Kitab Suci dari agama A, beratnya juga 60 kg.

Jika mereka terus kekeuh melanjutkan perjalanan, berat 180 kg itu pasti akan membuat mereka tenggelam. Satu-satunya jalan adalah membuat kelebihan muatan.

Mana jalan yang akan dipilih?
Melemparkan salah satu manusia demi menyelamatkan sepeti kitab suci
atau melemparkan kitab suci, demi menyelamatkan manusia?

Kalau saya, lebih baik saya mengorbankan sepeti buku-buku Injil dan membuangnya ke tengah laut, daripada saya harus "membunuh" sesama manusia walau ia berbeda Agama. Buku Injil hanyalah kertas, yang terpenting adalah apakah kita mampu menjalani firman yang ada di dalamnya. Firman itu yang akan terus hidup dalam diri kita.

Karena bagi Tuhan, nyawa manusia lebih berharga dibanding setumpuk kertas walau berisi ayat-ayat suci, atau makam orang paling suci sekalipun.

Jika Tuhan berkehendak untuk benda-benda tadi terpelihara, yakinlah bahwa Tuhan itu Maha Memelihara. Tuhan itu Maha Kuasa, jadi tak usah lah memukul orang lain demi membela Dia


Itu aja sih uneg-uneg yang mau saya sampaikan
Punya pendapat lain? Feel free to say it

Labels:

Sunday, December 13, 2009

Culture Shock



Saya tidak lahir di Jakarta, melainkan di Sragen, sebuah kota kecil di sebelah barat kota Kota Solo. Sragen is a darling little town where Toserba is equivalent to mall,pecel Mbok Jami is legendary and ‘alun-alun’ is the most happening place, ever.

Keluarga saya pindah dari kota kecil itu sewaktu saya berusia 4 tahun.
Gadis kecil dengan gigi ompong, cungkring dan berkuncir ekor kuda yang hanya bisa berbahasa Jawa….man, I was an easy target for bullying, haha.

Jadi, yah pada awalnya saya tidak banyak memiliki teman, dan saya memanfaatkan waktu itu dengan bermain sendiri sambil memperhatikan segala hal yang aneh di Ibukota ini.
Salah satu proses eksplorasi Kote Jakarte yang cukup menarik adalah pertemuan saya dengan ... Tukang Ketoprak.

Suatu hari saya melihat seorang pria mendorong gerobak melintasi rumah petak kami. Tetangga saya bilang itu Tukang Ketoprak.

Saya girang sekali, kebetulan nih ada hiburan, karena pada saat itu kami belum memiliki TV di Jakarta. Kalau di Sragen kami hanya melihat Ketoprak lewat televisi, namun di Jakarta, Ketoprak ada di jalan-jalan kampung berkeliling menyusuri jalan sempit. Lumayan hiburan gratis, Jakarta ternyata hebat sekali.

Maka berjalanlah saya mengikuti tukang Ketoprak itu, berkeliling kampung. Saya berharap ada yang menanggap dia sehingga saya bisa mendapat tontonan gratis, walaupun dalam hati heran, kok barang-barang untuk pertunjukannya minimalis sekali. Kaleng-kaleng kerupuk, ketupat dan cobek. Lakon apa ya kira-kira yang akan dipertontonkan.

Hingga di depan sebuah rumah, si tukang Ketoprak dipanggil oleh seorang Ibu. Dia pun lalu berhenti dan segera beraksi.....mengulek sambel kacang. LHO KOK? Saya pulang dengan tanda tanya besar Ketoprak di Jakarta kok aneh sih. Saya kecewa.

Setelah saya diberi tahu arti Ketoprak Jakarta sebenarnya, saya jadi menyadari “I’m not in Kansas…eh Sragen anymore”. Kalau Ketoprak saja bisa memiliki makna ganda, apalagi yang lainnya? Dan kehidupan baru di Jakarta berubah menjadi misteri besar yang asyik untuk dipecahkan.

Saya semakin giat beradaptasi dengan bahasa dan segala hal-hal baru di kota baru nan asing ini. Enak gak enak, enteng atau berat, semua harus dijalani. And boy, have i learned.

Saya tidak bisa merubah lingkungan, tapi sayalah yang harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ini. Jakarta menjadi sebuah petualangan.

Walaupun setelah dipikir-pikir, ide pertunjukkan Ketoprak keliling kampung is not a bad idea juga kan?

Labels:

Wednesday, August 19, 2009

Jangan nangis, cubit balik!

image courtesy of corbis.com

Dari kecil, gue emang cengeng banget. Sampai sekarang kadang masih kebawa cengeng dan manja. Sasaran empuknya? Siapa lagi kalau bukan suami tercinta. Suamiku, tabahkan dirimu ya,mwah.

Dulu waktu kecil, kira -kira kelas 1 SD, gue sering banget dijahilin sama anak tetangga. Dari dikata-katain, dimusuhin ala anak-anak (tau kan, si A bisik-bisik ke ke si B, eh jangan temenin Nia yuk) sampai dicubit.

Nah suatu hari, gue dicubit sama anak tetangga gue itu (namanya Dian, btw). Gue ngga inget seberapa sakit cubitannya, yang pasti gue nangis ngadu ke Mama.

Gue: "Huaaa...."
Mama: "Kenapa lagi kamu?"
Gue: "Dicubit Diaaaannn..."

Mama (dengan tenang) "Udah jangan nangis. Kalau dicubit ya cubit balik, jangan nangis"

Akhirnya dengan masih sedikit terisak, gue memberanikan diri ke rumahnya Dian yang hanya beberapa langkah dari dari pintu rumah gue (waktu itu kami masih tinggal di rumah petak kontrakan di daerah Mampang). Dengan sekuat tenaga, gue membalas cubitan di lengan anak perempuan keriting yang umurnya kira-kira 3 tahun lebih tua dariku.

Sehabis mencubit, aku lari ke rumah dan teriak "Udaah Maa! Udah aku cubit!"

Mengingat kami tinggal di rumah petak, yang kalau kentut saja terdengar sampai kamar sebelah, teriakan tadi kontan membuat Mama pucat pasi. Apalah jadinya kalau Ibunya Dian dengar. Tapi untunglah kejadian itu tidak berbuntut panjang, bahkan hanya diingat sebagai kenangan indah nakalnya anak-anak.

Anyway, the moral of the story is: kalau dicubit jangan nangis, tapi cubit balik. Tapi kalau udah nyubit balik, ngga perlu woro-woro, harus elegan. Dalam diam, biarkan orang lain menilai cubitan kita menyakitkan atau tidak. Betul ngga Ma? Maa? Ma, udah aku posting nih cubitannyaa!!

Labels: ,

Tuesday, July 21, 2009

Indonesia Unite


Unity, is something that we Indonesians always long for, yet we never thought that it would take such horrible atrocity to unite and bonded our hearts. The Jakarta bombings last Friday has woken us up after years of peace and bomb-free neighborhood.

I myself never could understand why there are people who hate this beautiful country, so hateful that they unleash such terrors, over, over and over again.

This country is too beautiful to hate, too precious to be left behind.
Right or wrong my country, this is my Indonesia.

We gain our freedom trough countless battles, our forefathers shed blood, sweat and tears to proclaim independence, unlike some country that has being given freedom in a silver platter.

Long before the Japanese claimed they invented Tempeh, people in various kampongs across Indonesia create Tempe on a daily basis. Not to mention the Batik, the Keris, and hundreds of other cultural treasures to be explored.

We survived 3,5 centuries of imperialism, 3.5 years of famine,and 32 years of political oppression. We are one tough country to beat, so yes we are certainly NOT AFRAID.

Labels:

Friday, July 10, 2009

A letter to my dearest friend


Honey,
you don't have to love him that much. A love like that will slowly kill you. How long must you endure the pain? A pain that will slowly destroy you.

Honey,
I would love to see your smile again, your witty charm, and how your face light up when you laugh. Yes, laughter. It's something that you didn't do much often these days.

Honey,
in my opinion, you don't even have to love him at all. Not because he's married to someone, or because his wife terrorized you with constant SMS or stalking you once in a while. Leave him because your love is too grand for him to cope. It is imbalance.

Honey,
you are too precious for this. We all know that you can accomplish so many things.Why waste your time waiting for something we both know could not work.

Honey,
don't wait for somebody new to replace him. I know you just need somebody to love you back, but you know what, to do that, you have to love yourself first.Loving yourself means that you stop hurting yourself, and this is hurtful. The whole situation is hurtful for you, so why bother?

Honey,
at this moment you are wondering when will all of this ends. My answer is it will end when you value yourself enough, when you wont settle to be the second option. because you my friend, deserves to be the one, the ultimate, the first, the last, the irreplaceable.

Honey,
stop wasting your time. Leave him and his battle for divorce. Love you for all you are, then learn to love again.


X.O.X.O
Nia

Labels: , ,

Monday, April 20, 2009

Project Runway Indonesia

Sebuah ruangan studio yang semi gelap. Hanya ada 1 panggung runway hitam, dengan layar broken white sebagai background. Sebuah lampu disorotkan dari belakang, hingga siapa pun yang melewati runway akan membentuk siluet dulu di balik layar itu.

Sebuahlogo dengan tipografi yang amat terkenal di dunia terbaca jelas "Project Runway" tapi kali ini di bawahnya ada 1 kata tambahan: "Indonesia".

15 kontestan telah duduk di sisi kanan runway. Latar belakang mereka bermacam-macam. Ada yang lulusan Lassale, ada yang menjadi stylist untuk seleb-seleb Indonesia ternama, ada yang masih kuliah desain, dan ada yang ibu rumah tangga biasa tapi punya hobi menjahit.

Muncul dari layar, siluet seorang wanita tinggi semampai. Dia berjalan dengan anggun ke tengah runway. Semua kontestan mendongak memandang seorang wanita tinggi, dengan hak tinggi, berdiri di atas panggung.

Dia menyapa "Hai semua"
Mereka membalas "Hai Caroline"

Ternyata dia adalah Caroline Zachrie.

"Selamat datang di Project Runway Indonesia. Ini adalah kesempatan bagi desainer-desainer pemula untuk mengembangkan bakat mereka. Pemenang dari kompetisi ini akan menerima hadiah berupa: fashion spread di majalah ELLE Indonesia, 1 buah mobil Honda Jazz, dan uang 50 juta rupiah untuk membangun label fashion-nya sendiri"

"Berikut ini adalah para Juri-nya" kata Caroline sambil menunjuk ke deretan fashion people yang duduk di belakangnya.

"Fashion Designer, Oscar Lawalatta"
"Fashion Editor dari ELLE Indonesia...si XYZ (haha, gue gak tau namanya)"
dan juri tamu kita, aktris dan model Mariana Renata.

Untuk tantangan kali ini adalah membuat sebuah pakaian dari bahan yang non konvensional.
Kali ini mentor kalian akan membawa kalian ke pasar tradisional dan memadukan 1 bahan dari pasar tradisional tersebut dengan our country's signature fabric, yaitu kain Batik"

Kembali ke studio jahit, ke 15 peserta diberi waktu 30 menit untuk membuat sketsa, lalu mereka digiring ke pasar becek terdekat untuk "berbelanja"

Ada yang membeli berlembar-lembar daun pisang.
Ada yang mengumpulkan kantong plastik dari kios-kios.
Ada yang membeli berkilo-kilo merica butiran, entah apa idenya -apa pun itu, semoga saja modelnya nanti tidak berpenyakit asma-
Ada yang sibuk memegang-megang daging sapi...oh, mungkinkah dia cukup gila untuk membuat pencil skirt dari irisan daging? Oh tidak!

Waktu telah habis, kini mereka masing-masing diberi berbagai pilihan kain batik dari keranjang yang tersedia. Tanpa pikir panjang mereka menyerbu untuk mengambil batik dengan motif paling menarik.

Mereka hanya memiliki waktu hingga jam 12 malam untuk menyelesaikan pakaian mereka. Studio jahit pun penuh drama dan ketegangan.

Siapakah yang akan keluar menjadi pemenang?
Siapakah desainer yang akan dieliminasi?
Apakah paduan daun pisang dan batik parang akan benar-benar terlihat modis?
Apakah ada model yang alergi merica?
Apakah ada desainer yang cukup gila untuk menggunakan potongan daging dalam fashion show?

Kita nantikan kapan-kapan saja. Karena episode ini hanya khayalan saya semata.

Carry on!

Labels: ,

Thursday, January 17, 2008

It's Raining

rain is moaning in with all it's glory
the dusty soil soon will be covered with droplets of fortune

yet the rain is getting heavier
confused the earth with blessing and curse

and people leaves
because people always leave

it happens, they say
yet, what happened is unbearable for some

and some people leaves
because people always leave

and those who stay
have the courage to stand in the rain

and count their blessing in each droplets
and see the curse as something that never happened

complaining is a useless thing, says the standing
just wait a moment until the monsoon resided

we'll enjoy the rainbow
and reap what we sow

and yet some people leaves
because some people always leave

Labels: , ,

Wednesday, June 20, 2007

COMFORT ZONE IS A DANGEROUS ZONE

A comfort zone is a type of mental conditioning that causes a person to create and operate mental boundaries that are not real. Such boundaries create an unfounded sense of security. Like inertia, a person who has established a comfort zone in a particular axis of his/her life, will tend to stay within that zone without stepping outside of it. (www.wikipedia.org)



Semua orang mencari kenyamanan, tapi kondisi terlalu nyaman ternyata tidak menyehatkan. Terkadang batas antara nyaman dan apatis itu samar buatku.

Antara kehilangan ambisi, atau murni karena malas, atau karena gampang merasa cukup.


Saat seekor Singa tidak pernah merasa lapar, mungkinkah instingnya untuk berburu tetap terasah? Jika ototnya tidak pernah bergerak, apakah dia tetap lincah?

Comfort zone adalah area yang selalu dicari, dan memang pantas untuk dicari, tapi sampai di mana kah parameter "comfort" itu?

Mungkinkah di luar comfort zone kita, justru terbentang suatu zona yang jauh lebih nyaman lagi? Mungkinkah comfort zone adalah suatu awal dari sebuah "discomfort zone"?

Mungkin disitulah letak bahayanya comfort zone....membuat kita terlena dalam definisi kenyamanan yang stagnan. Kehilangan semangat berjuang, semangat untuk meraih hidup yang lebih dari sekedar "comfort", dan akhirnya jongkok di tempat karena terlalu lelah untuk berlari.


**samar-samar MP3 player ku mengalunkan The Lazy Sunbathers dari Morrissey**




the lazy sunbathers,


too jaded to question stagnation...




Dan aku menyadari bahwa aku terlalu lama terlena tidur, bermandi matahari...

Labels: , ,

Thursday, February 01, 2007

A Few Notes for My (Future) Daughter


By the time you read this, probably you’ve graduated from Lembaga Bahasa LIA or private English lesson that daddy paid for (you know, since mommy write this in English), or maybe neither if mommy eventually married to a “bule”, then you’ve got the English speaking knack for free.

If you read this note, then it means that Mommy has found a really great guy, who sweep her of her feet, made her feel loved again and recover from that god-awful-heart-wrenching-pain that she had encounter earlier. You my darling, must be the fruit of our pure love, not by steaming lust, conceived-in-a-horrid-cheap-movie theatre downtown (believe me I’ve had a friend who did exactly that. Her life wasn’t pretty at all).

My first advice is: Beware of all skin whitening products, specially those fake non popular brands on Pasar Tebet Barat. Now honey, say it with me: SAY-NO-TO-HYDROQUINONE…Yes, that hai-dro-kui…ahh, good girl.

Clean your face before bed time; with milk cleanser and astringent (don’t use that two in one thingy, it makes you grow zits). It’s quite relaxing and scares away those pimples and dead skin cells. But don’t go for a facial until you can actually pay for it.

Eat your vegetables. For they are healthy, delicious and make your body lean and your skin look brighter. Trust me; you’ll thank me for this one.

Don’t wear anything with beads or fake pearl sequence. It is down right ugly and it’s just not right. Really it is.

The no-make-up look is the best look. So go find a natural colored foundation, nude lipsticks, lip gloss and the best eyeliner you can find. That is all you need too look good.

Enjoy the littlest thing that you find interesting, for sometimes they are the best thing that life could offer you.

When it comes to choosing your educational major, my only advice is to trust your inner gut. Acknowledge your talent and your passion. Choose a dream, and fight your way to get it accomplished. Whether it is art, science, writing, or even that damn taxing job. Jump on the wagon you choose, and then hit the gas like hell.

If someone makes you feel bad about yourself, just remember that you are always be my precious daughter, and you mean the world to me. The rest of the world who thought the otherwise, well they can kiss my teenie-tiny-tushie.

Don’t try to be one of those girls in school who try so hard to be popular. Learn to play guitar, and the popularity will come to you (and so are the cute guys)

When it comes to relationship, don’t trust your guy and give him 100% portion of your love. I know it’s hard, your Grandma used to say this, and I’m not paying attention, and I ended up in the most excruciating break-up ever - Thank God, I survive that though-

If your guy said that he was too busy to return your calls, chances are he is too busy answering other girl’s phone. Cut him off this instant.

Don’t fully trust a guy who said all the sweet stuff, he probably rehearse the lines way too many times - with other girls-

If a relationship is too good to be true, maybe it probably is. Keep your feet on the ground my dear, so it won’t hurt like hell when you fall.

A smile goes a long way. Smilers never loose and frowners never win, so levitate your chin, and face everything with a nice grin that Mommy has inherited you.

Take blame for your wrongs and embrace the credit for your rights. You just reward yourself with a big slice of fairness.

Parents are your friend, specially a pair of groovy couple like your mommy and daddy, so feel free to tell us everything. We shall not judge you or petrified you (well, maybe if you gotten yourself pregnant at your teen year or addicted to drugs, then the story would be so different young lady!)

Don’t hurt other people’s feeling just because you’ve been hurt before, remember what I said about the big slice of fairness, well trashing other people’s feeling is nowhere near the fairness cake.

Don’t cheat. It is wrong and hurtful. If you happen to find other people you like during your relationship. Dump your boyfriend and go for your new crush. Make up your mind! It will do a lot of people a favor.

Well, I could blab about this on-and-on-and-on, but I think that’s just about it. If something crossed my mind, I’ll just go and squeezed it into the list some other time. Now, if you’ll excuse me, Mommy will go and finds this nice and cute guy to conceived you with (in holy matrimony off course!)

Big hug and kiss,
Your Mother

Labels: ,

Sunday, January 21, 2007

Pelajaran Tentang Mencintai dari Edward Tulane

Di sebelah Edward, si boneka tua mendesah. Ia tampak duduk lebih tegak.Lucius datang dan mengambilnya dari rak, lalu menyerahkannya pada Natalie. Dan ketika mereka pergi, ketika ayah si gadis membukakan pintu untuk anak perempuannya dan si boneka tua, seberkas cahaya matahari pagi yang terang membanjir masuk, dan Edward mendengar cukup jelas, seolah boneka itu masih duduk di sampingnya, suara si boneka tua.

"Buka hatimu," katanya lembut
"Akan ada yang datang. Akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu"

Pintu menutup. Sinar matahari lenyap.

Akan ada yang datang.

Hati Edward berdesir lagi. Ia memikirkan, untuk pertama kali setelah sangat lama, rumah di Egypt Street dan Abilene yang memutar jamnya lalu membungkuk di depannya dan meletakkannya di kaki kiri Edward, sambil berkata, "Aku akan pulang padamu".

Tidak, tidak, ia berkata pada dirinya sendiri. Jangan percaya.
Jangan biarkan dirimu mempercayainya.

Tapi sudah terlambat.

Akan ada yang datang menjemputmu.

Hati kelinci porselen itu pun terbuka lagi.

(The Miraculous Journey of Edward Tulane by Kate DiCamillo)



Edward Tulane.
Dia bukanlah sesosok pria tegap dengan mata tajam. Dia bahkan tidak menggerakkan tangan dan kakinya. Telinganya panjang dan berbulu, namun kulitnya sehalus porselen, karena memang tubuhnya terbuat dari porselen putih.

Edward Tulane adalah boneka kelinci porselen (walau menurutnya kata "boneka" sangatlah merendahkan harkat karena artinya ia hanyalah sebuah "benda" bukan "mahluk") yang telah belajar tentang apa arti mencintai, kehilangan dan belajar untuk mencintai lagi.

Dia telah jatuh ke dasar lautan,tumpukan sampah, gurun tandus dan ladang yang sepi.Waktu telah mengombang-ambingkan tubuh dan hatinya yang rapuh untuk belajar mencinta, dengan "kurikulum" yang sangat berat dan memilukan.
Ia terhempas ke berbagai tempat, diluar kehendaknya, dan karena tangan dan kaki porselennya tidak bisa bergerak sesuka hati (padahal Edward ingin sekali punya sayap supaya bisa terbang), maka ia hanya bisa menunggu sampai takdir membawanya dari satu pemilik ke pemilik lain. Yang masing-masing meninggalkan kesan di hati porselennya.

Dengan hati yang telah jatuh-bangun-jatuh-bangkit berkali-kali dan dengan tubuh porselennya yang "statis" Edward mencari jalannya pulang, dan kekuatan untuk mencintai lagi.

Aku bukan Edward Tulane.
Kaki dan tanganku leluasa bergerak menurut apa yang aku mau.
Aku memang terhempas, tapi setidaknya tidak terjebak di dasar samudera, menunggu badai mengangkatku ke permukaan seperti yang Edward alami.
Aku bisa menangis, teriak, tersenyum dan mengatakan apa pun yang aku rasa, sama sekali bukan seperti Edward yang bahkan tidak bisa menitikkan air mata atau mengucapkan perpisahan.

Aku bukan Edward Tulane, tapi aku berharap bisa sekuat kelinci itu.
Mungkin sejarah akan berulang.
Hati ini akan kembali terhempas-dibuang-dipungut-disayang-terhempas-dan kembali disayang.
Sebuah olah-raga yang diciptakan oleh kehidupan untuk membuatku kuat.
Namun, aku tau waktu akan membawaku pulang.
Ke tempat yang paling pantas, di mana hatiku menyebutnya "rumah"

Labels: ,

Sunday, March 12, 2006

Siapa yang porno? Siapa yang (pasang) aksi?

Seperti perempuan lainnya, saya juga tidak suka melihat tubuh perempuan dieksploitasi dalam majalah bugil atau tabloid esek-esek. Atau imej keseksian perempuan yang disajikan secara vulgar dan murahan dalam sinetron komedi di berbagai TV swasta.

Tapi jika untuk menentang pornografi dan mencabut hingga ke akar-akarnya, mungkin saya akan bilang: tidak! Mengapa? karena pornografi adalah hal yang akan selalu ada, itu adalah human interest yang manusiawi. Ayo, jujur deh...siapa sih yang tidak menganggap pornografi sebagai kebutuhan. Siapa sih yang ngga "butuh" buat ngelihat stensilan atau foto-foto porno?. Dilarang atau tidak, mereka akan selalu ada.

Mungkin yang saya inginkan dalam hal ini adalah pengaturannya. Bagaimana agar tontonan dewasa itu yah ditujukan buat orang dewasa saja. Artinya, jangan sampai mereka yang belum cukup umur melihatnya.

Setujukah kamu, jika saya bilang pengaturan lebih penting daripada larangan. Pelacur dimana-mana akan selalu ada, prostitusi kan profesi paling tua di jagat raya ini. Daripada mereka ditangkap, diberi wejangan trus dilepas (malah kadang mereka jadi sasaran pelecehan seksual aparat), bukankah lebih baik kalau mereka dikumpulkan di suatu tempat (lokalisasi) ?. Tentu lebih aman, tertib dan terkendali ketimbang dibiarkan liar kan? mereka bisa diperiksa oleh tim kesehatan secara berkala agar bebas dari penyakit menular seksual (AIDS, Hepatitis, dsb). Kalo sekarang kan engga. Lokalisasi dirubuhin, tapi pelacur dan germonya tetep kelayapan di pinggir jalan. Boro-boro menghapus pelacuran, yang ada malah nyebarin penyakit kelamin yang susah terdeteksi.

Ahh sungguh munafik!

Begitu pula yang terjadi belakangan ini dengan adanya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi:
http://www.lbh-apik.or.id/ruu-pornografi.htm

Sebuah undang-undang yang dipaksakan dan tidak perlu, karena sebenarnya Indonesia sudah memiliki KUHAP dan UU yang melindungi hak anak dan perempuan, hanya saja penegakannya yang masih jauh dari maksimal.
Yah, apanya yang maksimal, kalo pemerkosa dihukum 7 tahun penjara sedangkan maling ayam diganjar 3 tahun penjara. Apakah harga kehormatan serta trauma psikis yang dialami wanita setara dengan 2 ekor ayam?Ayolah, yang bener aja. Hukum masih acak-adul gini masih mau ditambahin aturan ngga jelas pula.

Batasan-batasan yang hablur tentang seksualitas dan aurat wanita, seharusnya biar menjadi wilayah norma dan bukan di wilayah hukum negara yang absolut. Makna dan batasan aurat sendiri kan berbeda-beda bagi setiap kalangan, bagaimana bisa diangkat dalam hukum negara.

Lalu, ada pula saudara-saudara kita di Bali yang wanitanya memakai kemben dan pria Irian Jaya yang masih memakai koteka? dengan relief-relief di candi Hindu yang menggambarkan wanita telanjang dada?

Kata mereka yang pro RUU APP: Lho, kan di RUU APP ada pengecualian untuk kegiatan yang menyangkut tradisi, seni atau olahraga. Trus, kalo buat di Bali atau Irja, ya mereka dibikinin undang-undang khusus aja.

Heh, semudah itu ya bikin undang-undang. Kalo ternyata peraturannya melanggar wilayah nilai orang lain, ya dibikin pengecualiannya aja. Kok UU negara Republik Indonesia bisa dengan gampangnya di beri pengecualian. Sejak kapan ya, hukum bisa di bengkok-bengkok-in kaya gitu (eh iya, saya lupa, ini kan Indonesia).

Tapi begini, masalahnya bukan tentang budaya Bali, Irian, atau Kalimantan. Ini masalah pengkriminalisasian tubuh perempuan. Seolah-olah seluruh sumber kejahatan seksual penyebabnya adalah tubuh perempuan.
Sepertinya, tubuh wanita sebuah ancaman besar terhadap kesucian moral, sampai-sampai negara perlu menyisihkan anggarannya yang minim di saat rakyat kelaparan untuk membuat undang-undang yang mengatur betis dan belahan dada perempuan. Bukannya bikin anggaran untuk pendidikan seks kepada generasi muda, agar mereka bisa memilah secara bijaksana setiap informasi yang mereka dapat.

Ngga mau tenggelam, tapi ogah belajar renang, malah kolam renangnya disegel dan ditutup. Ngga mau ada pemerkosaan, jadi perempuannya yang ditangkepin. Lelaki bejat dan hidung belangnya? hmm..mungkin dia-dia juga tuh yang bikin Undang-Undang...(hehe..emosi nih gue)

Ingin menyuarakan penolakan tentang RUU ini?
Tenang...ngga perlu demo dan teriak-teriak di bundaran HI kok, cukup klik dan isi petisi ini : http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html


Saya sudah mengisi dan menggunakan nama dan email asli. Saya sarankan kamu juga begitu.

Labels: ,

Friday, February 03, 2006

Bahagia vs Bersyukur

Ada seorang bijak pernah bilang, di dunia ini ngga ada satupun orang yang bahagia. Yang ada hanyalah orang-orang yang berPURA-PURA bahagia.

Menurut gue, bersyukur jauh lebih penting dari pada perasaan bahagia.
Bersyukur adalah melihat kebahagiaan di saat ada masalah. Bersyukur adalah keberhasilan kita dalam melihat suatu kesulitan dari sudut pandang lain.

Setelah kupikir-pikir lagi, orang berpura-pura bahagia adalah biasa, tapi jika berpura-pura bersyukur, itu sama aja dosa. Iya kan?

Labels: ,

Wednesday, February 01, 2006

Keputusan Yang Terbaik



Tik-tok. Tik-tok. Tik-tok
Jam di dinding menunjukkan waktu pukul 11.50 malam. Suasana begitu sunyi, bahkan halus nafas Elok pun terdengar nyaring. Tepat sepuluh menit lagi, gadis manis berambut sebahu itu akan mengakhiri hidupnya. Serbuk silica gel telah dicampurkannya dalam segelas teh manis. Tekadnya sudah mantap, ia akan bunuh diri dengan meminum teh beracun itu. Tadinya dia punya rencana untuk mengiris nadi dengan pisau cutter, tapi diurungkannya, karena gadis 17 tahun itu takut melihat darah. How ironic is that?

Tik-tok. Tik-tok. Tik-tok
”Mengapa Rendra?” isaknya tanpa air mata. Jelas sekali kelenjar air mata gadis itu sudah kering karena terkuras isinya. Kering tak bersisa.

Tik-tok. Tik-tok. Tik-tok
Elok pun menunggu.

***
The Lounge, Jakarta. Juli, 4 tahun yang lalu

“Jadi kamu ngga lulus tes?” tanya Rendra sambil menyeruput kopi pahitnya.
Elok menggeleng
Rendra merapatkan pelukannya ke tubuh mungil Elok. Gadis itu pun menyenderkan kepala ke bahu kekasihnya.
”Kayaknya impian aku buat kuliah seni rupa di ITB udah ancur, Ren”
”Elokku sayang, kan tahun depan masih ada kesempatan” Rendra mencoba menghibur
”Tapi aku pengen cepet-cepet kuliah di Bandung sama kamu Ren”
”Aku ngerti sayang, aku ngerti. Eh, tapi ada loh satu tes yang kamu pasti lulus” Rendra tersenyum jahil. Elok tau pasti ini pertanyaan yang jauh dari serius.
”Apaan?”
”Tes urin”
”Rendra jahaaaaaat” Elok segera mendorong tubuh kekasihnya itu hingga terhuyung jatuh dari sofa.
Keduanya pun tenggelam dalam tawa. Kalau ada seseorang yang paling bisa membuat Elok tertawa, orang itu adalah Rendra. Lelaki yang menghiasi hati gadis itu semenjak dua tahun terakhir ini.
Banyak yang melarang cinta mereka. Terutama keluarga Elok, karena mereka masih menganggap Rendra tetap seorang pemakai narkoba, meskipun sudah 6 bulan ini Rendra terbebas dari pengaruh benda haram itu. Di mata siapa pun Rendra tetaplah seorang junkie yang bisa sewaktu-waktu kumat.
Walau begitu Elok tetaplah seorang gadis remaja yang dimabuk cinta, dan sungguh ia mencintai Rendra dengan teramat sangat.

***
Stasiun Gambir, Agustus, 4 tahun yang lalu

Sesosok lelaki muda berdiri di dekat peron. Kekasihnya menggelayut manja di bahunya, seperti enggan untuk melepaskan prianya itu.

”Ren, maaf ya, Mama nyuruh aku kuliah di Jakarta aja. Katanya biar tetep deket sama dia”
”Tetep dekat sama Mama, atau biar tetep jauh dari aku?”
Elok terdiam
”Engga pa-pa kok sayang, nanti kalo liburan aku ke sini deh. Then, I’m all yours baby”
Rendra mengecup lembut kening Elok
”Ati-ati ya Ren” Elok balas membelai lembut rambut Rendra.
Sore itu sepasang kekasih saling menggelayutkan hati mereka yang enggan berpisah

***
Rumah Sakit di Bandung, 7 hari yang lalu

“Ini engga mungkin…” isak Elok tak percaya
Rendra tergolek lemah di tempat tidur, selang oksigen dan infus malang-melintang di atas tubuh ringkihnya.
”Sudah 3 hari ini kondisinya makin memburuk Lok. Virus itu makin lama makin menggerogoti dia” Ibu Rendra berucap dengan tegar. Wanita paruh baya itu sudah kehilangan daya untuk menangis.
Rendra positif terkena HIV-AIDS. Pergaulannya di Bandung makin tak terkendali, lelaki muda ex-junkie itu kembali memakai putau dan shabu. Uang saku dan biaya kuliahnya, habis mengalir ke kantong bandar-bandar narkoba. Semua terjadi diluar sepengetahuan Elok.

Sudah hampir setengah tahun belakangan ini Rendra tidak membalas email, SMS apalagi menelpon Elok ke Jakarta. Jika Elok menelpon, Rendra tampak menghindar dan menyembunyikan sesuatu. Hingga suatu hari, Elok nekat menyusul Rendra ke Bandung. Elok pergi diam-diam. Nginep di rumah temen, buat cari bahan skripsi, adalah alasan Elok untuk Mama.Semua itu demi melepaskan rindu pada Rendra, meskipun hanya untuk semalam. Dan pertemuan mereka di hotel murah di pinggir kota bandung itu, akan merubah hidup Elok untuk selamanya.

”Tante tinggal sebentar ya Lok, tolong jaga Rendra ya?” kata wanita itu sambil mengemas berkas-berkas resep yang hendak ditebusnya.
”I-iya Tante”
Pintu kamar menutup, dan tinggallah Elok berdua dengan Rendra. Di kepala gadis itu ada begitu banyak tanda tanya.

”L-lok..maafin aku..” Rendra mengucap lirih
”Kenapa kamu engga pernah bilang?”
”Aku takut. Aku malu. Aku takut kehilangan kamu“
Tangis Elok pecah
”T-tapi..berarti...mungkin kamu juga bikin aku kena AIDS kan Ren? Malam itu di hotel... berarti kamu sebenarnya udah terinfeksi, tapi kamu ngga bilang sama aku. Kamu bahkan ngga pernah bilang kalo kamu nyuntik lagi.!!!” Elok menjerit tak tertahan.
”Waktu itu aku belum tau Lok, badan dan otak aku terlalu kacau buat periksa ke dokter...”
Rendra berhenti untuk menghela nafas yang Ia perlukan untuk mengucap kalimat selanjutnya
”S-sampe aku pingsan di tangga kos-kosan, baru temen-temen aku bawa aku ke rumah sakit...”
”Ren, sepertinya aku harus cek darah”
Rendra mengangguk lemah.

Keesokan harinya Elok mengunjungi salah satu dokter ternama di Jakarta untuk memeriksakan darahnya.

”Hasilnya tesnya mungkin 4 hari. Kemungkinan hasilnya negatif sepertinya kecil, mengingat kalian waktu itu tidak pakai...”
”I-iya dok..”
Elok pun menunggu dalam gelisah luar biasa.

4 hari kemudian, Elok merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Virus itu positif hadir dalam hidupnya.


***
Kamar Elok, 11.55 WIB

Tangan gemetar Elok menggenggam lemah gelas mematikan itu. Detik-detik berlalu, dan nyawanya akan hilang sesaat setelah tengah malam.

Tiba-tiba pintu kamar Elok terdobrak paksa. Entah kekuatan dahsyat darimana yang membuat seorang wanita renta yang setengah lumpuh mampu menggebrak pintu kamar anak gadisnya.

”Eloook...jangaan!” Mama berteriak dan berjalan dengan dibantu oleh tongkat berjalannya. Semenjak dia tau Elok positif HIV, wanita itu terserang stroke ringan yang membuat langkah rentanya bertumpu pada sebatang tongkat bambu.

”M-ma..Elok ngga kuat Ma..”ujar Elok, lirih.
”Hidupmu berharga Elok...bunuh diri itu tindakan yang egois”
Tangan Elok semakin gemetar. Ia terdiam dalam awang-awang pikirannya sendiri
”Kamu egois..kamu ngga mikir Mama. Sehari-semalam Mama menyabung nyawa waktu melahirkanmu. Semua sakit Mama tahan, karena Mama ingin kamu hidup, sayang” tangan keriput Mama berpegang erat pada tongkat bambunya, badannya condong ke depan seakan hendak memeluk tubuh anak perempuan satu-satunya itu.

”Mama minta Elok tetap hidup, sampai Tuhan meminta Elok kembali”
Kepala Elok terasa begitu ringan, seperti ada pencerahan dalam benaknya. Ia menyadari kini, seharusnya ia mencintai Mama lebih dari rasa cintanya buat Rendra. Dalam hati ia berharap semoga belum terlambat.
Tak lama kemudian tangis Elok memecah, begitu pula gelas beracun di tangannya.
”Maafin Elok, Ma. Elok mau hidup”
Gadis belia itu memeluk ibunya dengan erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ia ingin menggelayutkan hidupnya pada wanita yang melahirkannya.
”Seumur hidup, Elok akan terus sayang sama Mama”

Tik-tok. Tik-tok. Tik-tok
Jarum jam tepat di angka 12 dan kini Elok merasa seperti hidup kembali.

Labels:

Sunday, January 29, 2006

Bolehkah Eka Mencinta?

all photos by: Corbis.com


Selasa 17 April.

Mencintai seorang pria adalah suatu cara untuk menyiksa diri sendiri hingga seluruh jiwa-raga puas tercabik-cabik.Tanpa nyawa dan tak bersisa.
Karena cinta adalah definisi mutlak dari siksaan dan pria adalah kaki tangannya.


”Ekaa!!!”
Aku menoleh, seorang gadis berambut keriting tersenyum lebar memamerkan kawat gigi keramiknya. Nafasnya tersengal karena berlari menaiki tangga menuju kamarku.

Lalu dengan seenak perut dia menghempaskan badan mungilnya di punggungku dan tak sengaja membuat goresan panjang melintasi jurnal pink yang sedang asyik kutulis.

”Nuri, udah gue bilang sejuta kali jangan ngagetin gue waktu gue nulis!” Ujarku marah. Dan sebuah bantal kecil mendarat sukses di atas wajah mungilnya.

”Whooaa...easy does it....Tenang dong darling, abis gue kan udah ngga sabar pengen tau gimana hasilnya” Nuri tertawa sambil balas melempar bantal sial itu ke kepalaku.

Aku terdiam dan merapikan rambutku. Aku sudah tau Nuri akan menanyakan itu.

”Ka...Lo udah ngomong ke dia kan? Kalian kan kemaren seharian jalan berdua, masa lo masih takut juga?” senyum lebar Nuri memudar, ekspresi wajahnya penuh tanda tanya.

Aku menggeleng.

Nuri menghela nafas.

”Cinta kalo ngga diucapin bakal nyiksa Ka. Lo harus bilang kalo lo suka sama dia. Ups sorry..bukan cuma suka. Elo terobsesi sama dia. Elo CINTA sama Andre!”

Aku menjawabnya dengan tangisan pelan. Tangisan dari pedihnya hati paling dalam.
Nuri memang sahabatku terbaik. Dia mengenal segalanya tentang aku. Tentang betapa Aku rindu untuk mencintai Andre, cowok sebelah rumah yang telah kukenal hampir separuh dari hidupku.

”Gue ngga bisa Ri. Gimana kalo dia ngga seperti yang gue pikir”

”Eka, lo berdua tuh punya banyak kesamaan. Dia suka kaktus, lo juga. Lo suka nonton fashion TV, dia juga nonton itu tiap hari”

Aku masih terdiam memeluk jurnalku. Mungkin Nuri benar.
”Gue pernah mergokin loh, waktu kita lewat depan rumahnya waktu itu, matanya ngeliatin elo terus” propaganda Nuri terus meluncur, mencoba meyakinkanku.

”Tapi, gimana kalo dia bukan…” Mataku nanar memandang ke jendela rumah. Tepat di seberang jendela, terletak kamar Andre yang berhadapan langsung dengan kamarku.

“Well, kalo gitu berarti ngga jodoh. Udahlah, bilang aja Ka… you have nothing to lose”

”Kalo dia bilang ke semua orang, I’ll lose everything Nuri! Let’s face it, semuanya enggak se-simple itu!”

Dan memang segala sesuatu di hidupku tidak akan pernah sesimple itu.

*******
Rabu, 18 April

Ada waktu untuk menanam.
Ada waktu untuk menuai.
Ada waktu untuk putus asa dan patah se-patah-patahnya
Ada waktu untuk jatuh cinta dan menyatakannya.
Semoga saja waktu kini berpihak padaku.
Semoga...

Hari ini, Nuri ke rumahku sambil membawa sebuah kaktus dalam pot warna coklat. Entah ada dewa dari surga agraris mana yang merasuki kepala keritingnya dan memberinya ilham untuk menanam kaktus di halaman depan rumahku.
”Hari Rabu kan hari bercocok tanam Ka!”

Hmm... satu lagi dalil konyol ala Nuri, pikirku. Lalu tiba-tiba Nuri menyorongkan pot kaktus itu dalam pelukanku dan menarik tanganku dengan paksa.

”What the...???”

Dengan tertawa terbahak Nuri menarik tanganku dan menyeretku hingga halaman depan.
”Ayoo...daripada manyun melototin jendela tetangga sambil nulis jurnal engga jelas!”

Nafas kami tersengal saat tiba di halaman depan rumahku. Rimbun pohon jambu dan tanaman Anggrek milik Mama menyambut dua anak 16 tahun yang cekikikan sambil memeluk pot kaktus.
Tepat dihadapanku berjejer sederetan kaktus bermacam jenis yang telah kukoleksi selama beberapa tahun terakhir ini. Andre yang mengajariku segalanya tentang kaktus, dan setelah kupikir-pikir sepertinya dialah alasan mengapa aku menyukai tanaman kekar dan berduri itu.

Nuri meletakkan pot kaktusnya di deretan pot-pot mungil itu.
”Ini kaktus madu Ka, rada susah lo nyarinya. Oiyah, tadinya Opa ngelarang gue nanem kaktus, soalnya kalo belom nikah trus nanam kaktus, katanya bisa berat jodoh. Tapi gue sih cuek aja, abis elo kan suka banget kaktus. Lagian, who cares about jodoh, if we have each other, right?”

Aku tau dia mencoba untuk menghiburku dan mengajakku melupakan wajah Andre dari kepalaku. Ah, Nuri yang manis.

“Amen, sister..hahahaha” kataku sambil mengacak rambut keritingnya.

Di pagi itu, Aku, Nuri dan sebongkah kaktus madu siap menjalani hari yang menyenangkan. Hari bercocok tanam itu kini berubah menjadi hari-main-semprot-semprotan-pakai selang air. Kami berteriak dan saling menyiramkan air dengan brutalnya. It was soo much fun, hingga sesosok cowok tinggi dengan rambut kecoklatan dan mata yang setajam elang mendekati kami.

“A..Andre?”
“Hei Ka,lagi sibuk?”
”Hah? Eng..enggak kok” Tangan gugupku menjatuhkan selang air. Dalam hati aku mengutuk Nuri karena membuatku tampil dengan badan basah kuyup di hadapan Andre.
”Ada yang mau gue omongin sama elo, bedua aja”
Dengan wajah berbinar seperti ada sejuta kunang-kunang menghiasi wajahku, aku pun bergegas merapikan rambutku yang kuyup dan mengajak cowok ganteng itu ke teras rumah.

”Ka, minggu depan gue mau ke Melbourne, gue mau kuliah di sana”
”M...Melbourne?” mendadak lidahku kelu, seperti ada listrik 1500 volt menyambar dan menyengat kepala.
”Iya, gue dapet beasiswa. Hari Sabtu depan ini ada farewell party di rumah.Yah, cuma keluarga sama temen deket aja sih Ka. Lo dateng ya?”
”Iyalah, pasti Ndre..” aku menjawab lirih
” Oiya satu lagi...ada yang sebenernya pengen gue omongin dari lama. Tapi gue engga berani ngomongnya”
Aku menelan ludah.Mungkinkah dia mengucapkan yang kupikirkan?
Tangan Andre merogoh saku jaketnya dan jari-jari kekarnya menggenggam erat kertas warna putih. Sebuah amplop! Sebuah surat cinta?!

”Perasaan ini udah gue pendam lama Ka. Tapi sampe sekarang gue ngga berani ngomongnya”
” Andre...gue juga….”
”Gue butuh bantuan lo Ka” Dia menghempaskan amplop itu ke telapak tanganku.
Amplop putih dengan sedikit semburat pink muda di sudutnya itu kini ada di genggamanku. Sebuah tulisan tangan jelas terbaca...

To: Nuri


” Lo kan sohibnya banget Ka. Makanya gue minta tolong kasihin surat ini ke dia”
”N-Nuri??” tenggorokanku tercekat, mataku membelalak tak percaya
”Gue udah lama suka sama dia, anaknya lucu banget sih. Gue sering liatin dia kalo dia lagi maen ke rumah lo” Wajah Andre memerah dan tersenyum sipu.

Aku menoleh cepat ke arah Nuri. Gadis manis berambut keriting yang telah menjadi sahabatku semenjak SD. Gadis berkawat gigi yang tahu rahasiaku yang terdalam, kini jadi sasaran rasa cinta Andre. Sebuah perasaan cinta yang kuharap dengan sungguh hanya untukku.

Nuri balas menatapku dengan matanya yang polos. Tangannya memainkan ujung sweater birunya yang basah.

Andre melirik ke jam tangannya dan berlari sambil tergesa.

” Wah Ka, gue musti cabut nih, musti ke Imigrasi buat bikin foto paspor. Eh, please tolongin gue ya? Jangan lupa” Ujar Andre penuh harap sambil sesekali mencuri pandang ke arah Nuri. Tak lama ia pun melesat pergi dengan motornya.

Aku tetap terdiam menatap lekat ke arah Nuri.
”Ka? Eka? Andre bilang apa?” mata Nuri berbinar penasaran.
”Dia nitip ini buat Lo” Aku melempar cepat amplop sialan itu ke dada Nuri.
Nuri tergagap menangkapnya sambil berteriak
” Ekaa..Lo kenapa?”
Air mata jatuh perlahan saat aku bergegas menaiki tangga kamarku. Kuhempaskan tubuh ringanku ke atas tempat tidur dan segera terisak diantara dekapan bantal.

Mama yang berada di kamar sebelah pun segera melongok ke kamarku.


”Eka? Kamu kenapa? Berantem sama Nuri ya?”

Aku terisak

”Hmmh...Udah dong, masa anak lelaki nangis. Malu kan”

Aku tersentak.

Ucapan Mama bagai ujung pisau yang menoreh hatiku.
Andaikan Mama tahu, alasan aku menangis, justru karena aku seorang anak laki-laki!
Author: Kurnia Setyarini
Published @ Gogirl! Magazine 2006

Labels:

Friday, January 27, 2006

Wanita Cancer





Ketika dia jatuh cinta, ia akan bertingkah seakan tidak pasti. Pertama, malu-malu dan sok sopan didekat anda. Kedua, dia akan lengket bagaikan lem ke anda dan akan berusaha selalu berada di dekat anda setiap saat. Ia
akan berusaha untuk pulang bersama, atau makan siang dengan anda.
Sebenarnya hal ini cukup OK, jika anda menyukainya juga. Tapi jika tidak, tentunya anda akan luar biasa
terganggu. Ia benci dibicarakan dan digosipkan oleh orang lain. Jika tahu, maka ia akan sangat terluka.

Sebetulnya ia adalah tipe pemalu, kecuali jika ia dipengaruhi zodiak lainnya. Ia bukan tipe berani atau
penantang, maka jika anda menyukainya, lebih baik anda mulai duluan.

Ia menyukai musik dengan nada yang selalu berubah, maka pada saat tertentu ia bisa lucu dan ceria, kemudian tiba-tiba dapat berubah menjadi sedih dan terkesan depresi. Bagi orang tertentu, ia dapat
terlihat "over akting" atau "over reakting" Ketika ia depresi, ia akan pergi
keluar dan mencari hal-hal yang membuatnya merasa sedikit lega.

Ia cinta uang, dan ia menganggap uang sebagai "bahagia"dan bukannya "Tuhan." Ia tidak akan pernah meremehkan anda walaupun anda tidak punya uang, dia akan membantu anda untuk mencari uang,
dan menabung. Ia bukan orang yang suka dengan kemewahan dan terkadang akan melarang anda
membelikan hadiah yang mahal dan tidak terlalu berguna.

Ia adalah tipe orang yang menikmati berjalan-jalan dengan tenang dan damai.
Wanita cancer juga dipengaruhi oleh bulan, maka dibawah sinar bulan dia akan tampil mempesona. Ia selalu takut akan banyak hal. Ia takut karena kurang pandai, kurang cantik.
Walaupun ia tidak gemuk, ia tetap tidak akan puas.

Meyakinkan bahwa ia tampak cantik akan sangat membantu, karena
mood-nya dapat berubah sampai 4 kali dalam satu hari. Ia bukannya pelit, tapi anda akan terkejut melihat koleksi barang-barang kuno rusak miliknya. Ia melihat bahwa semua hal berguna baginya. Ia akan menemukan cara untuk menggunakan mereka kembali, suatu saat nanti.

Ia bukan tipe pencemburu, tapi cenderung posesif. Hal terbaik dari dirinya adalah ia akan
mengorbankan apapun bagi orang yang dicintainya tanpa adanya batasan. Jangan tinggalkan dia pada saat dia bermasalah, ia tidak akan pernah melupakannya. Ia bukan tipe lemah, walaupun ia nampak seperti mereka, contohnya adalah pada saat anda bertengkar dengannya, ia mungkin akan menangis. Begitu anda meninggalkannya, ia akan segera menghapus air matanya, dan akan membenahi tempat tinggalnya seperti tidak terjadi apa-apa.
Ia adalah ibu yang sangat berhati-hati dan akan selalu menjaga anaknya di tiap langkahnya. Jika ia adalah istri anda, tidak akan menjadi masalah, tetapi jika ia adalah ibu mertua anda, nah.. itu baru masalah.

Tapi jangan kuatir, tipe ibu mertua seperti ini tidak akan menjadikan anaknya sebagai "teman masa tua." Ia dapat berubah menjadi sangat mudah marah, dan dapat bertengkar mengenai hal sekecil apapun dengan anda seperti kebanyakan wanita, tetapi ia akan selalu rela menunggui dan merawat anda.

Jika anda menghilang selama beberapa hari, ia akan menunggui anda,tetapi tidak untuk waktu lama. Ujian semacam ini sangat beresiko, dan lebih baik tidak dilakukan.

Wanita Cancer membutuhkan 2 hal untuk dapat merasa bahagia, mereka adalah "Kerja" dan "Cinta".
Ia dapat tinggal dalam rumah berdebu, tetapi ia tidak dapat tinggal di dalamnya tanpa cinta.

(FOR THE LOVE OF GOD!!! BENER BANGET!!!)

Labels: